Arsip Kategori: Opini

Opini

APBN Dijebol Subsidi BBM

Oleh : Salamuddin Daeng

Menurut fitch rating ; High Subsidy Burden: The government has significantly increased subsidies to shield households from high international oil and food prices, allowing for unchanged domestic prices for the most used types of subsidised fuel. The resulting energy-related subsidy spending, which the government expects to total 2.4% of GDP this year compared with 1.1% in 2021, is to a large extent offset by increased revenue, partly due to higher commodity prices%.

Sebelum dibahas berapa gawatnya peningkatan nilai subsidi dalam APBN tersebut sebaiknya kita mengerti lebih dahulu apa itu program subsidi menurut UU APBN? Program Pengelolaan Subsidi adalah pemberian dukungan dalam bentuk pengalokasian anggaran kepada perusahaan negara, lembaga pemerintah, atau pihak ketiga berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menyediakan barang atau jasa yang bersifat strategis atau menguasai hajat hidup orang banyak, atau disalurkan langsung kepada penerima manfaat, sesuai kemampuan keuangan negara.

Apa yang dimaksud dengan “parameter” adalah semua variabel yang memengaruhi perhitungan subsidi, antara lain: besaran subsidi harga, volume konsumsi BBM bersubsidi, volume konsumsi LpG tabung 3 kg, Harga Indeks Pasar (HIP) LPG tabung 3 kg, volume penjualan listrik bersubsidi, susut jaringan, dan volume pupuk bersubsidi.

Besaran Subsidi Dalam APBN 2022

Dalam UU APBN 2022 disebutkan dalam Pasal 16 ayat (1) Program Pengelolaan Subsidi dalam Tahun Anggaran 2022 direncanakan sebesar Rp206.96 triliun. (2) Anggaran untuk Program Pengelolaan Subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. (3) Anggaran untuk Program Pengelolaan Subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan dengan kebutuhan realisasi pada tahun anggaran berjalan berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro, perubahan parameter, perubahan kebijakan, danlatau pembayaran kekurangan subsidi tahun-tahun sebelumnya. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai rincian Program Pengelolaan Subsidi dalam Tahun Anggaran 2022 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Presiden.

Adapun yang dimaksud dengan asumsi pada pasal 16 ayat 3 diuraikqn dalam pasal penjelasan Ayat (3) yakni dimaksud dengan “asumsi dasar ekonomi makro” adalah harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah. Yang dimaksud dengan “parameter” adalah semua variabel yang memengaruhi perhitungan subsidi, antara lain: besaran subsidi harga, volume konsumsi BBM bersubsidi, volume konsumsi LpG tabung 3 kg, Harga Indeks Pasar (HIP) LPG tabung 3 kg, volume penjualan listrik bersubsidi, susut jaringan, dan volume pupuk bersubsidi. Dalam rangka melaksanakan program pengelolaan subsidi yang lebih tepat sasaran mulai Tahun 2022, Pemerintah dapat mengarahkan pelaksanaan subsidi LPG dan listrik dengan berbasis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara bertahap.

Selanjutnya pasal 17 Pasal 17 ayat (1) Dalam hal realisasi PNBP Migas yang dibagihasilkan melampaui target penerimaan dalam APBN yang diikuti dengan kebijakan peningkatan belanja subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquifted Petroleum Gas (LPG), Pemerintah dapat memperhitungkan persentase tertentu atas peningkatan belanja subsidi BBM dan LPG terhadap kenaikan PNBP Migas yang dibagi hasilkan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perhitungan persentase tertentu atas peningkatan belanja subsidi BBM dan LPG terhadap kenaikan PNBP Migas yang dibagihasilkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Berapa Uang Yang Diperlukan

Kebijakan Pemerintah dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 juga berpengaruh terhadap belanja subsidi, antara lain: (1) pemberian diskon listrik untuk golongan rumah tangga 450 VA dan 900 VA (DTKS); (2) insentif subsidi bunga untuk erumahan bagi MBR; dan (3) tambahan subsidi bunga untuk UMKM yang terdampak Covid-19, serta (4) insentif pajak ditanggung pemerintah untuk dunia usaha. Perkembangan realisasi belanja subsidi selama tahun 2017– 2021 meningkat cukup besar.

Subsidi energi terdiri atas subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg, serta subsidi listrik. Pada periode tahun 2017–2020, realisasi subsidi energi mengalami perkembangan yang cenderung fluktuatif, terutama dipengaruhi perkembangan asumsi dasar ekonomi makro dan kebijakan besaran subsidi tetap untuk minyak solar. Selama kurun waktu tahun 2017–2020, subsidi energi menunjukkan pertumbuhan rata-rata 3,7 persen, dari Rp97,64 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp108.84 triliun pada tahun 2020. Pada outlook tahun 2021, subsidi energi diperkirakan mengalami peningkatan menjadi Rp128.46 triliun. Dalam realisasi tahun 2020 dan outlook tahun 2021 tersebut telah ditampung kebijakan diskon listrik yang ditujukan untuk membantu daya beli masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Realisasi subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg selama kurun waktu tahun 2017–2020 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,5 persen, dari Rp47,05 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp47.74 triliun pada tahun 2020. Dalam outlook tahun 2021, subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg diperkirakan mencapai Rp66.94 triliun, atau menunjukkan peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2020. Hal ini dipengaruhi perkembangan asumsi dasar ekonomi makro terutama ICP dan nilai tukar rupiah, perkembangan volume konsumsi, serta pembayaran kekurangan subsidi tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, perkembangan realisasi subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg juga dipengaruhi oleh perubahan kebijakan besaran subsidi tetap solar. Kebijakan besaran subsidi solar pada periode tahun 2017–2021 telah beberapa kali mengalami penyesuaian dengan memperhatikan perkembangan asumsi dasar ekonomi makro terutama ICP dan nilai tukar rupiah. Pada tahun 2017, besaran subsidi tetap solar sebesar Rp500/liter, selanjutnya menjadi Rp2.000/liter pada tahun 2018–2019, Rp1.000/liter pada tahun 2020, dan menjadi Rp500/liter pada tahun 2021.

Selanjutnya pada RAPBN tahun anggaran 2022, alokasi belanja subsidi direncanakan sebesar Rp206.96 triliun, terdiri atas subsidi energi sebesar Rp134,03 triliun dan subsidi nonenergi sebesar Rp72,94 triliun. Jumlah alokasi tersebut lebih rendah 16,7 persen apabila dibandingkan dengan outlook APBN tahun 2021 sebesar Rp248,56 triliun. Hal ini disebabkan dalam outlook 2021 menampung tambahan anggaran penanganan pandemi Covid-19.

Dalam RAPBN tahun anggaran 2022, subsidi energi direncanakan sebesar Rp134.03 triliun, terdiri atas subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg sebesar Rp77.55 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp56,47 triliun. Dalam pagu RAPBN tahun anggaran 2022 tersebut, masih disediakan alokasi untuk subsidi LPG tabung 3 kg dan subsidi listrik rumah tangga berbasis komoditas. Kebijakan transformasi subsidi energi menjadi subsidi berbasis orang/ penerima manfaat akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.

Anggaran subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg dalam RAPBN tahun anggaran 2022 diperkirakan sebesar Rp77,55 triliun atau lebih tinggi 15,9 persen apabila dibandingkan dengan outlook APBN tahun 2021 sebesar Rp66,94 triliun. Anggaran subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg dalam tahun anggaran 2022 diarahkan untuk: (1) melanjutkan pemberian subsidi tetap untuk solar dan subsidi selisih harga untuk minyak tanah; (2) melaksanakan transformasi kebijakan subsidi LPG tabung 3 kg tepat sasaran dan menjadi berbasis target penerima secara bertahap dan berhati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.

Asumsi Jauh Berubah

Seluruh asumsi makro yang dibuat berunah drastis sejak perang Russia Ukraina berlangsung.. Harga minyak melompat ke angka 120 dolar AS per barel. Demikian pula nilai tukar rupiah juga bergerak melewati Rp. 15.000/ dolar Amerika Serikat (AS). Ini tentu secara drastis mengubah angka angka yang ditetapkan dalam APBN, semua berubah secara significant. Mengingat harga minyak dan nilai tukar masih merupakan parameter paling dasar dalam membuat asumsi APBN.

Akibatnya nilai subsidi yang harus ditanggung APBN meningkat sangat besar. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani nilai subsidi energi yang digulirkan pemerintah untuk menahan harga BBM, elpiji 3 kilogram, dan listrik meningkat. Terbaru, pihaknya menambah anggaran subsidi energi untuk tahun 2022 mencapai Rp 520 triliun. Namun, karena subsidi masih berbasis komoditas, BBM, hingga elpiji bersubsidi itu juga banyak dinikmati oleh orang kaya.

Sementara sebelumnya realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi hingga Mei 2022 sudah mencapai Rp 75,41 triliun terdiri dari subsidi reguler pada bulan Mei mencapai Rp 65,24 triliun dan kurang bayar tahun sebelumnya Rp 10,17 triliun. Subsidi dan kompensasi energi mendominasi belanja nonkementerian/lembaga dengan realisasi Rp 334,7 triliun sampai Mei 2022.

Tingginya realisasi subsidi pada bulan Mei 2022 tersebut karena dipengaruhi oleh volume barang-barang bersubsidi yang meningkat. Volume BBM yang meliputi solar dan minyak tanah meningkat menjadi 5,6 juta kiloliter dari 5 juta kiloliter di tahun 2021. Lalu, elpiji 3 kilogram meningkat menjadi 2,5 juta MT dari sekitar 2,4 juta MT. Begitu juga dengan listrik bersubsidi yang naik menjadi 38,4 juta pelanggan dari 37,4 juta pelanggan pada tahun 2021. Peningkatan yang luar biasa besar.

APBN akan Bangkrut?

Pemerintah memang tidak akan pernah mengumumkan secara terbuka bahwa APBN bangkrut dan tidak lagi sanggup menanggung beban subsidi. Pertama, karena subsidi memang merupakan kewajiban yang ditetapkan dalam UU. Tentu pemerintah tidak tidak mau dianggap gagal menjalankan kewajiban kepada negara dan rakyat. Kedua, pemerintah tetap membutuhkan kepercayaan intetnasional dan investor agar tetap mendapatkan bantuan liquiditas dari pasar untuk kesinambungan anggaran. Sistem anggaran yang defisit menciptakan ketergantungan pada sumber sumber pembiayaan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Pemerintah akan terus dalam model konsolidasi fiskal semacam itu. Fiscal Consolidation Likely to Continue: Fitch forecasts the fiscal deficit to narrow marginally to 4.3% in 2022 from 4.6% in 2021. We assume the government will meet its deficit target of just below 3% of GDP in 2023, when the budget ceiling will be reinstated, although risks to the fiscal outlook have increased and include a further rise in the subsidy bill and weaker GDP growth than we expected. angka defisit yang besar mencerminkan kebutuhan pembiayaan (utang) yang besar agar tetap dalam sistem anggaran yang ambisius atau ekspansif atau pro pada pertumbuhan.

Pemerintah tidak mungkin mengurangi belanja, namun sangat mungkin menekan jumlah subsidi yang tidak langsung atau mengurangi subsidi yang bersifat terbuka berbasis komuditas dengan alasan anggaran negara yang tidak lagi mencukupi karena dua sebab penerimaan yang menurun akibat tekanan resesi ekonomi sementara pengeluaran atau beban bertambah.

Namun ada argumentasi uang menolak pemerintah menjalankan subsidi tertutup dengan alasan pemerintah masih cukup uang karena mendapatkan winfall dari kenaikan harga komoditas. Argumentasi itu berbasis pada meningkatnya Pendspatan SDA pemerintah akibat kenaikan harga komuditas global.

Sebagai dasarnya APBN 2022 menggambarkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) SDA dalam RAPBN tahun anggaran 2022 ditargetkan sebesar Rp121.950,1 miliar atau terkontraksi sebesar 6,9 persen apabila dibandingkan dengan outlook tahun 2021. PNBP SDA tersebut terdiri dari pendapatan SDA migas sebesar Rp85.900,6 miliar dan pendapatan SDA nonmigas sebesar Rp36.049,5 miliar. Sebelumnya pada outlook tahun 2021, pendapatan SDA nonmigas diperkirakan mencapai Rp35.994,0 miliar atau tumbuh 27,9 persen bila dibandingkan tahun 2020. Pertumbuhan tersebut sebagai dampak dari meningkatnya harga komoditas dunia terutama batubara yang diperkirakan sebesar US$81,3 per ton atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 yang sebesar US$58,2 per ton.

Selanjutnya pendapatan SDA nonmigas pada RAPBN tahun anggaran 2022 diperkirakan sebesar Rp36.049,5 miliar, tumbuh 0,2 persen dibandingkan outlook tahun 2021. Pertumbuhan ini didukung oleh membaiknya PNBP sektor kehutanan, perikanan, dan panas bumi, sementara sektor pertambangan minerba diperkirakan akan mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2021. Sebelumnya pada outlook tahun 2021, realisasi pendapatan SDA pertambangan minerba diperkirakan mencapai Rp28.978,5 miliar, tumbuh 36,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan harga dan produksi batubara. Tahun 2021 produksi batubara diperkirakan mencapai 625 juta ton lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi tahun 2019 sebesar 616 juta ton setelah sempat turun ditahun 2020 yang mencapai 563 juta ton. Begitu pula dengan HBA yang diperkirakan terus mengikuti tren positif harga komoditas walau diperkirakan cenderung melandai di akhir tahun 2021. Perkembangan HBA dan produksi batubara dapat dilihat pada Pada RAPBN tahun anggaran 2022, pendapatan pertambangan minerba diproyeksikan sebesar Rp28.011,3 miliar atau turun 3,3 persen dari outlook tahun 2021. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya proyeksi harga dan produksi batubara pada tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya. HBA diproyeksikan sebesar US$67,3 per ton lebih rendah dari HBA tahun 2021 yang sebesar US$81,3 per ton, sedangkan volume produksi batubara diproyeksikan sebesar 550 juta ton, lebih rendah dari volume produksinya di tahun 2021 sebesar 625 juta ton.

Namun besaran penerimaan negara dari SDA retaif belum sebanding dengan kebutuhan subsidi yang sangat besar. Belum lagi masalah utang negara yang besar yang mengakibatkan beban bunga dan cicilan utang yang harus ditanggung setiap tahun sangatlah besar. Sementara sistem bagi hasil sumber daya alam belum sejalan dengan kebutuhan pemerintah mendapatkan dana yang besar bagi pembangunan. Ada terobosan seperti rencana pungutan ekspor batubara dan sumber daya alam lainnya yang selama ini dijual ke luar negeri, namun sistem itu belum berjalan secara terbuka dan transparan. Selain itu laju eksplotasi sumber daya alam akan tertahan oleh agenda perubahan iklim, sehingga dapat dipastikan akan semakin mengecil di masa mendatang, walaupun harga komuditas meningkat.

Jalan Keluar Dari Krisis Energi

Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Demikian kata orang orang tua jaman dulu. Mudah mudahan. Hanya saja ini membutuhkan rute yang lebih akurat, sistematis dan fokus kepada masalah yang hendak diselesaikan. Seluruh polemik dan perdebatan harus diarahkan pada bagaimana mencari solusi jebolnya APBN dikarenakan beban subsidi yang sangat instan. Ini juga akan menjadi ruang sosialisasi bagi usaha membuat masyarakat urun rembuk atas masalah ini.

Sedikitnya ada tiga tema yang berkembang baik dikalangan pengambil kebijakan maupun publik terkait dengan krisis APBN Akibat jebolnya subsidi bahan bakar minyak dan LPG sekarang ini. Pertama adalah; pertama, menaikkan harga jual BBM dan LPG sehingga harganya mendekati harga pasar atau harga keekonomian sehingga otimatis mengurangi subsidi dan kompensasi. Kedua, membatasi jumlah kuota BBM dan LPG subsidi dengan mengalokasikan BBM dan LPG subsidi kepada pihak yang berhak sehingga tidak menambah beban. Ketiga, mengalihkan sepenuhnya subsidi BBM dan LPG melalui mekanisme tertutup dengan mengalokasikan subsidi kepada masyarakat paling miskin.

Langkah pertama adalah langkah yang dipandang paling beresiko karena akan dapat mengalahkan merosotnya ekonomi, daya beli, inflasi, dan mungkin lebih luas akan menimbulkan dampak politik. Cara pandang inilah yang mengakibatkan sampai saat ini pemerintah sulit mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM dan LPG bersubsidi meskipun harganya sudah terpaut sangat jauh dengan harga pasar.

Langkah kedua sebetulnya sudah mulai dicoba dijalankan dengan berbagai cara. Namun sistem alokasi dan pengawasan baik dari sisi regulasi maupun teknis belum cukup memadai. Lembaga lembaga yang selama ini mengawasi olokasi BBM dan LPG subsidi belum cukup sanggup mengatasi penyimpangan BBM dan LPG subsidi. Dalam bahasa lain masih digunakan oleh kelompok masyarakat yang tidsk berhak.

Sebelumnya ada usaha yang dilakukan melalui sistem pendataan konsumen BBM bersubsidi. Alat pendataannya adalah platform digital MyPertamina. Diharapkan dengan cara ini maka akan dapat dipotret siapa atau kelompok masyarakat mana yang sebetulnya yang menggunakan BBM subsidi dan untuk keperluan apa. Platform akan menghasilkan rekaman data yang bagus untuk pembuatan kebijakan dimasa mendatang.

Langkah ketiga adalah langkah pamungkas mengalokasikan seluruh kekuatan subsidi secara tertutup kepada kelompok miskin, yakni 40 persen penduduk termiskin sebagaimana dilaksanakan tetangga tetangga Indonesia, atau kepada 8 persen penduduk miskin secara mutlak atau sekitar 27 juta penduduk Indonesia. Cara ini berartiemghentikan sama sekali subsidi berbasis komoditas.

Ketiga langkah tersebut dipandang sebagai cara untuk keluar dari masalah jebolnya APBN akibat meningkatnya beban subsidi. Memang jalan keluar ini mengandung konsekuensi yang berbeda beda. Namun semua terpulang pada analisis para pengambil kebijakan dengan berbasis data data yang mereka miliki yang tentu saja cukup kuat untuk membaca dinamika ekonomi politik dan sosial yang berkembang. Semua keputusan yang diambil membutuhkan sosialisasi yang efektif agar alasan dan argumentasi atas kebijakan itu mudah diterima oleh masyarakat. Selamat berdiskusi.

Hajj dan sejarah religiositas manusia

Imam Shamsi Ali

Ada indikasi kuat bahwa haji atau amalan-amalan ritual di Tanah Haram sudah ada sejak awal turunnya manusia ke atas bumi ini. Hal itu terbukti dengan jejak-jejak sejarah kedua orang tua manusia, Adam dan Hawa, yang diturunkan ke bumi ini di sekitar wilayah tanah haram itu.

Belakangan kita ketahui bahwa pertama kali mereka turun atau diturunkan ke bumi ini mereka terpisah. Mereka pun saling mencari didorong oleh rasa “rahmah” (kasih sayang) yang ada pada keduanya. Maka atas kasih sayang Allah mereka dipertemukan di sebuah bukit yang juga dikenal dengan “rahmah” (bukit kasih sayang). Bukit itu memang lebih dikenal saat ini dengan nama “Jabal Rahmah”.

Sudah pasti tidak ada catatan sejarah mengenai mereka berdua. Tidak ada catatan tinta kasat, kecuali narasi-narasi yang berkembang dari waktu ke waktu, yang pada akhirnya seolah menjadi catatan sejarah resmi.

Belakangan disebutkan bahwa Adam sendiri meninggal di kota suci Mekah. Beliau dikuburkan di sekitar “lokasi suci” sekitar Ka’bah. Ada yang menyebutkan bahwa Adam dikuburkan di sebuah lokasi antara Ka’bah dan Sumur Zam-Zam saat ini.

Sementara Hawa melakukan perjalanan hingga ke pinggiran pantai di sebuah daerah di luar kota suci Mekah. Daerah pinggiran pantai itu sekarang dikenal sebagai sebuah kota metropolitan di Saudi Arabia bernama Jeddah. Di sanalah Nenek manusia itu dikuburkan. Bahkan kuburannya hingga kini menjadi salah satu destinasi ziarah kota Jeddah.

Namun demikian, catatan sejarah tentang ritual haji yang paling jelas dalam literasi agama kembali kepada sejarah Ibrahim AS dan keluarganya. Ibrahimlah dan keluarganya, khususnya anak isterinya Hajar dan Ismail AS, yang kemudian menjadi tema sentra dalam pembicaraan tentang haji dan tanah suci.

Ibrahim menjadi sebutan yang berulang dalam membahas tentang haji dan Tanah Haram. Dari Ihram, ke Wukuf, Muzdalifah, Mina, hingga ke Thawaf dan Sa’i. Semuanya tidak terlepas dari sejarah napak tilas Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS.

Walau tidak sepopuler Ibrahim, ternyata ada juga riwayat jika Musa AS juga pernah melakukan thawaf di sekitar Ka’bah. Entah kapan dan bagaimana? Memang hanya Allah yang Maha mengetahui.

Tapi yang pasti memang Ka’bahlah dalam sejarah agama yang pertama kali dijadikan sebagai pusat “ibadah”. Karenanya sangat wajar jika manusia secara turun temurun telah menjadikan tempat ini sebagai pusat “peribadatan”.

Al-Quran menyebutkan: “sesungguhnya Rumah (tempat ibadah) yang pertama ditempatkan di bumi adalah yang ada di Bakkah Yang Suci itu” (Al-Quran).

Demikian dalam sejarahnya kita kenal juga bahwa jauh sebelum Rasulullah SAW dilahirkan di Tanah Mekah, kaum Arab dan tetangga-tetangganya telah menjadikan Ka’bah sebagai pusat ritual ibadah mereka. Hanya saja mereka melakukan itu tanpa Syariah (aturan agama) yang benar.

Salah satu yang kita baca dalam sejarah bahwa kaum Arab sebelum Muhammad SAW hadir melakukan thawaf di sekitar Ka’bah dan Da’i di antara Shofa-Marwa tanpa menutup badan.

Demikian seterusnya tempat yang dikenal dengan Tanah Haram ini menjadi pusat peribadatan sepanjang sejarah. Belakangan dengan kehadiran Ibrahim dan putranya Ismail yang mendoakan: “Wahai Tuhan kami, jadikan hati sebagian manusia cinta kepadanya (Mekah)” hal itu semakin mengakar.

Puncak dari semua itu adalah diutusnya Rasul dan Nabi penutup, Muhammad SAW, yang menjadikan praktek ritual bersejarah itu menjadi “hukum” atau Syariah yang baku. Bahkan dalam agama Islam haji menjadi salah satu pilar (tiang) agama itu sendiri.

Karenanya melaksanakan ibadah haji sesungguhnya adalah sekaligus merupakan “napak tilas” perjalanan sejarah “religiositas” manusia. Pusat ketaatan kepada Tuhan bermuara dari pusat dunia yang memang dikenal sebagai “Ummul Qura” (Ibu negeri).

Para ulama menyebutkan jika di sekitar Bait al-Ma’muur di sekitar Arsy Allah malaikat tiada henti melaksanakan thawaf menyembah dan membesarkan Asma Allah. Maka di bumi di sekitar Ka’bah tempat para hamba Allah dari kalangan manusia tiada hentinya menyembah Allah dan membesarkan AsmaNya.

Dengan melaksanakan ibadah haji kita diingatkan kembali perjalanan “keagamaan” dan “ketaatan” manusia kepada Tuhan. Seolah dengan perjalanan haji kita menyegarkan dan membangun kembali komitmen keagamaan dan ketaatan yang telah terjadi sepanjang sejarah interaksi manusia dengan Penciptanya.

New York City, 30 Juni 2022

  • Presiden Nusantara Foundation

Analisa Pengamat Terkait Peluang Anies, Andika dan Ganjar di Nasdem

Sampai saat ini Nasdem belum memutuskan figur tunggal untuk diusung dalam pilpres 2024, berdasarkan hasil rakernas Nasdem telah menominasikan tiga nama yang akan diusung sebagai capres, nantinya salah satu diantara tiga figur tersebut akan ditetapkan oleh partai sebagai capres tinggal.

Koordinator Presidium Demokrasiana Institute yang juga Pengamat Kebijakan Publik, Zaenal Abidin Riam, memandang langkah Nasdem untuk tidak terburu-buru menetapkan satu nama capres merupakan bagian dari langkah partai yang masih menganalisa arah politik 2024, termasuk penjajakan untuk membangun koalisi.

Zaenal menilai ketiga nama yang telah diputuskan dalam Rakernas Nasdem yakni Anies Baswedan, Andika Perkasa dan Ganjar Pranowo masing-masing memiliki peluang untuk diusung oleh Nasdem.

“Anies Baswedan memang paling banyak diusulkan oleh DPW Nasdem, secara historis Anies juga memiliki kedekatan dengan Nasdem, Anies merupakan salah satu pendiri ormas Nasdem, belakangan ini dalam beberapa kesempatan Anies kerap diundang dalam acara Nasdem, publik membaca ini sebagai isyarat politik, akan tetapi politik selalu dinamis, dua kandidat lainnya juga tetap punya peluang” jelas Zaenal dalam keterangan yang disampaikannya di Jakarta, Minggu (26/6).

Lebih lanjut Zaenal Abidin Riam mengungkapkan munculnya nama Andika Perkasa sebagai salah satu capres Nasdem juga patut diperhitungkan.

“Andika Perkasa juga layak diperhitungkan sebagai kandidat capres, meskipun secara elektabilitas Andika Perkasa tidak semoncer Anies dan Ganjar, namun Andika merupakan pejabat publik yang relatif mampu mengkapitalisasi posisinya sebagai panglima TNI untuk semakin dikenal publik, dari sisi histori sudah ada figur militer yang pernah terpilih sebagai presiden lewat pemilihan langsung” terang Zaenal.

Terkait Ganjar Pranowo, menurut Zaenal Abidin Riam tak bisa dipungkiri Ganjar merupakan salah satu kandidat capres yang populer, hanya saja saat ini sedang mengalami perang batin.

“Tentu Ganjar populer dan punya peluang diusung Nasdem, hanya saja Ganjar saat ini sedang berhitung dengan cermat apakah memilih maju lewat jalur partai lain atau tetap berharap ke PDIP, mengingat sejauh ini PDIP masih kukuh mengusung Puan Maharani sebagai capres” ungkap Zaenal.

Setelah Rakernas Nasdem yang digelar di JCC, para kader partai besutan Surya Paloh tersebut masih harap harap cemas menunggu keputusan ketua umum tentang nama siapa yang akan ditetapkan secara tunggal sebagai capres, Nasdem nampak sedang memainkan political marketing dengan “menjual” tiga nama yang bisa dijadikan sebagai daya tawar negosiasi politik.

Nasib Kabinet Pasca Reshuffle

Presiden Jokowi baru saja melakukan penyegaran terhadap kabinet yang dipimpinnya, total ada dua sosok baru yang mengisi kursi menteri, Zulkifli Hasan sebagai Menteri Perdagangan dan Hadi Tjahjanto sebagai Menteri ATR/Kepala BPN. Selain itu tiga wakil menteri baru menghiasi kabinet, mereka adalah Afriansyah Noor diangkat menjadi Wakil Menteri ketenagakerjaan, Raja Juli Antoni selaku Wakil Menteri ATR/Kepala BPN dan Wempi Wetipo diberi amanat Wakil Menteri Dalam Negeri. Dengan komposisi baru tersebut banyak pihak mempertanyakan akan seperti apa nasib kabinet pasca reshuffle, akankah lebih baik atau justru mundur.

Maju atau mundurnya kinerja kabinet bergantung pada kinerja para menteri, secara ideal posisi menteri semestinya dijabat oleh figur yang memang ahli dalam bidang tersebut, namun dalam realitas politik hal itu susah terwujud, mengapa? Karena dalam penyusunan kabinet posisi menteri merupakan domain politik yang penunjukannya berdasarkan pertimbangan politik, ketika pertimbangan politik yang digunakan maka orientasinya lebih pada berbagi kekuasaan di antara sesama partai koalisi pendukung Presiden, oleh sebab itu politisi yang ditunjuk sebagai menteri pada dasarnya tidak benar-benar ahli di bidang itu.

Demi menyikapi keterbatasan kapasitas menteri maka disiapkan posisi wakil menteri yang dalam sejarah kelahirannya memang dikhususkan kepada orang yang ahli di bidang tersebut, harapannya kekurangan menteri bisa ditutupi oleh wakil menteri yang memang pakar di bidang tersebut. Malangnya dalam perkembangan politik terkini, posisi wakil menteri juga mulai dijabat oleh politisi, tidak lagi sepenuhnya dipercayakan kepada para ahli, akibatnya tidak ada yang menutupi kekurangan menteri yang memang tidak ahli di bidang itu, menteri dan wakil menteri tidak bisa saling melengkapi.

Formasi menteri dan wakil menteri baru nampaknya tidak mencerminkan figur yang memang ahli pada bidangnya, mayoritas diisi oleh para politisi, pertimbangan presiden nampaknya lebih pada pembagian kekuasaan kepada partai yang mendukung Presiden namun selama ini belum mendapat jatah menteri atau wakil menteri. Tercatat PBB, PSI dan PAN mendapat jatah dalam reshuffle kali ini. Jokowi sepertinya lebih memilih menyolidkan koalisi hingga 2024 dengan pembagian jatah menteri dan wakil menteri.

Skema pembagian jatah yang dinilai proporsional menurut Presiden, semakin meneguhkan keyakinannya bahwa pemerintah secara sepihak merasa telah memberikan kesejahteraan bagi rakyat, yang sesungguhnya hanya fatamorgana.

Penulis: Dr. H. Baeti Rohman, MA
Ketua Umum DPN ISQI (Ikatan Sarjana Al-Qur’an Indonesia)

Ideologi Etatisme Atau Ta’jul Furudz (Islam)

Oleh : Ahmad Daryoko (Koordinator INVEST)

I. Filosofi Dasar.

Etatisme mengandung arti kehadiran Negara ditengah rakyat. Yang meskipun mengandung arti sosial tetapi bukan berarti memberlakukan rakyat seperti “kere” ditengah jalan ! Seperti dilakukan seorang Petinggi Negara yang hobbynya membagi bagikan hadiah dengan melempar bingkisan-bingkisan hadiah dari dalam mobil ! Sekali lagi bukan seperti itu yang dimaksud Etatisme/Ta’jul Furudz ini !

Etatisme/Ta’jul Furudz (Islam) lebih menekankan penerapan Kemandirian Bangsa secara ketat ketimbang menggantungkan diri kepada bantuan Asing/Aseng. Memang berat dan rata-rata pasti mengalami kegoncangan ekonomi pada awalnya, misal terjadi krisis, kemiskinan dan seterusnya. Namun Kepala Negara harus bisa mengelola keadaan demikian guna mencapai Visi Kemandirian 

Kalau Ideologi Ta’jul Furudz (dalam Islam) lebih rinci lagi, bahwa yang harus dikelola Negara adalah dalam hal hal strategis mengikuti doktrin yang termuat dalam Hadhist “Almuslimuuna shuroka’u fii shalashin fil ma’i wal kala’i wan nar wa shamanuhu haram”. Sehingga dalam Islam terjadi pembedaan antara komoditas kepemilikan publik (“Public Good”) yang  strategis seperti air, ladang (hutan dan tambang) serta api (energi) dan  harus dikuasai Negara, dan “Commercial Good” atau komoditas komersial yang tidak harus dikuasai Negara dan dapat diberlakukan hukum pasar yang mengikuti mekanisme pasar bebas yang Kapitalistik/Liberal. Dan semua itu masih selaras dengan Panca Sila dan UUD 1945.

II. Bagaimana Di Era Komunis

Dalam “musim panca roba” seperti sekarang ini kita harus bicara apa adanya ! 

Bahwa era orde lama memang di dominasi PKI dengan cara mendorong Bung Karno ke arah “kiri” untuk kepentingan PKI. 

Di era itu, Ideologi Etatisme Bung Karno seperti “National Character Building” , Berdikari, Progresif Revolusioner dll yang terlihat Nasionalis di “tunggangi” PKI dengan program Nasakom, Trikora, Dwikora , Ganyang Malaysia, Angkatan Kelima  dll dengan target utama penghancuran TNI AD. Namun BK justru terlihat menikmati semua itu. Apalagi PKI mendukung BK sebagai Presiden Seumur Hidup !

Dalam situasi tersebut , PKI justru memanfaatkan kondisi krisis ekonomi, kemiskinan (yang wajar terjadi pada Negara yang mau bangkit secara mandiri) yang timbul  guna menebar politik pertentangan kelas seperti jargon-jargon “Kabir” (Kapitalis Birokrat), “Setan Desa”, “Setan Kota” , ” Borjuis vs Proletar” dsb guna memecah belah masyarakat. Dan ujung nya pecah Pemberontakan G 30 S/PKI pada 1 Oktober 1965, yang untung dapat ditumpas secara tuntas dan cepat oleh Pangkostrad ( saat itu ) Mayjend Soeharto.

Dan lebih parah lagi setelah terjadi “gonjang ganjing” politik 30 September 1965, semangat Etatisme yang tadinya di “kangkangi” PKI ke arah “kiri”,  selanjutnya mengayun ke arah “kanan” dengan terbitnya UU No 1/1967 tentang PMA (Penanaman Modal Asing) yang juga ditanda tangani oleh BK pada 10 Januari 1967.

Yang tidak habis pikir adalah baru saja BK “menendang” IFIs ( IBRD, ADB, IMF) pada 1964, tiba tiba masuk lagi ke kekuatan ekonomi dunia itu dan mempersilahkan “Freeport MC Moran” mengeduk emas di Puncak Jaya Wijaya( Gressberg) di Papua itu,  pasca terbitnya UU No 1/1967 tentang PMA di bulan dan tahun  yang sama .

III. Bagaimana Di Era Kapitalis

Kalau era Orla identik dengan era Komunis, maka era Orba identik dengan era Kapitalis 

Kalau di era Orla Etatisme/Ta’jul Furudz di “acak” Komunis, maka di era Orba Etatisme/Ta’jul Furudz di “acak”-acak Kapitalis

Baik Komunis maupun Kapitalis, dua duanya adalah musuh Ideologi Etatisme/Ta’jul Furudz. 

Bedanya kalau Komunis, pembunuhan dilakukan  seketika dan secara sadis, disembelih dan dikubur kedalam sumur, seperti penyembelihan para Kyai dan Santri di Takeran, Panigoro antara 1948, 1964 dan peristiwa G 30 S/PKI di Lobang Buaya 1965 . 

Sedang Kapitalis membunuh rakyat Indonesia secara pelan dan lama. Di kasih umpan dulu dengan hutang Luar Negeri, dibangunkan infrastruktur, kemudian lama lama di rampas BUMN dan SDA nya (tambang emas, nikel, besi , batubara dll), setelah BUMN di kuasai di “cekek” tarip listrik nya (misal untuk kelistrikan), diduduki kawasan area tambang dan sekitarnya.

Di era Orba semua yang berbau Ideologi di anggap tabu, tidak boleh berpolitik ! Jargonnya adalah Karya…..Karya dan…Karya . Sehingga Parpol Penguasa (The Rulling Party)pun bernama Golongan Karya. Akibatnya Rezim Orba tidak memiliki Visi alias “pragmatis”. Panca Sila memang di junjung tetapi “ruh” Ideologinya (Etatisme/Ta’jul Furudz) dimatikan ! Akibatnya budaya “Peng Peng” mulai merebak , dan akhirnya terbit LOI (Letter Of Intent) pada 31 Oktober 1997 yang berisi komitmen Pemerintah kepada IFIs terkait : 1). “Macro Economic Policies” 2). “Financial Sector Restructuring 3). “Structural Reform” yang intinya berisi Deregulasi, Debirokratisasi, Privatisasi dan  Liberalisasi Perdagangan. Yang ujung2 nya antara lain Negara harus melepas BUMN pelayanan publik seperti PLN, Pertamina, Telekomunikasi dll.

IV. Bagaimana Di Era Freemasonry

Di era ini Ideologi Komunis dan Kapitalis ber sinergi dalam Freemasonry. Dimana dalam penggalangan massa diterapkan dengan cara-cara Komunis. Sedang System ekonomi dengan cara Kapitalis !

V. Kesimpulan :

Panca Sila dan UUD 1945 dengan ruh Etatisme/Ta’jul Furudz itu sampai saat ini hanya menjadi “pajangan” ! Yang berlaku adalah Ideologi Komunis dan Kapitalis !

VI. Apa Yang Harus Di Lakukan

Generasi Muda harus sadar dan bangkit melawan ini semua ! Dengan cara “roboh” kan Tirani Komunis dan Kapitalis yang ada saat ini !

Dan tegakkan Etatisme/Ta’jul Furudz sebagai “ruh” Panca Sila itu”.

Ukraina adalah Suriah yang Lain (2)


(Dina Sulaeman)

Bagian ini sebenarnya adalah copas dari tulisan saya tahun 2014 yang judulnya “L’Ukraine est une autre Syrie” (Ukraina adalah Suriah yang Lain). Memahami peristiwa 2014 penting untuk mengikuti apa yang terjadi hari ini.


Kerusuhan di Ukraina (2014) terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Zionis-Prancis, Bernard-Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy adalah seorang makelar perang. Dia dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi).

Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!” (wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!)

Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa. Sebagian rakyat setuju bergabung dengan UE, sebagian lagi menolak. Pengalaman Yunani yang bangkrut akibat bergabung dengan UE membuat banyak orang sadar, UE dan pasar bebas Eropa bukanlah gerbang kemakmuran bagi rakyat banyak. Hanya segelintir yang diuntungkan,dan para kapitalis kelas kakap Eropalah yang jauh lebih banyak mengeruk laba.

Sebagaimana polisi Suriah yang habis-habisan diberitakan brutal oleh media Barat dan para pengekornya, Berkut (polisi) Ukraina pun mengalami nasib yang sama. Tak ada yang peduli bahwa polisi memang bertugas mengamankan gedung dan para pejabat negara dari aksi-aksi anarkis.

Tak ada yang mencatat (kecuali jurnalis independen) bahwa baik Assad maupun Yanukovich melarang polisi menggunakan senjata mematikan dalam menghadapi demonstran, dan akibatnya banyak polisi yang jadi korban, dipukuli atau kena lemparan batu dan molotov para demonstran.

Gaya para demonstran antipemerintah di Damaskus dan Kiev pun mengikuti ‘cetakan’ yang sama dengan gaya demonstrasi oposisi Mesir, Tunisia, Venezuela, Belarus, Georgia, atau Iran. Mereka memprovokasi polisi, serta menyerang gedung-gedung pemerintah, yang tentu saja mendatangkan reaksi keras dari polisi.

Tak heran, karena mentor mereka pun sama: CANVAS, perusahaan konsultan revolusi yang membina kaum oposan di lebih dari 40 negara. Pentolan CANVAS adalah Srdja Popovic, arsitek gerakan penggulingan Slobodan Milosevic (Serbia) pada tahun 2000. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain.

Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan pasca-Assad. Tak jauh beda, demonstran Ukraina pun dididik oleh tangan-tangan Amerika.

Pengakuan dari Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland, memberikan buktinya. Nuland mengatakan, Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk ‘mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina’ selain untuk memberikan ‘masa depan yang layak bagi Ukraina.’

Bahkan Menlu Kanada juga mengakui telah memberikan sumbangan ‘luar biasa’ pada sebuah LSM di Ukraina untuk rumah sakit darurat dan peralatan medis. Bantuan itu diberikan tepat sehari sebelum kelompok oposisi bersenjata menyerbu Maidan dan mengakibatkan jatuhnya banyak korban, termasuk tewasnya sejumlah polisi, pada 18/2.

Di Suriah, dengan alasan ‘melawan kebrutalan rezim’, para pemberontak angkat senjata, dan senjata disuplai dari luar negeri. Tak beda jauh, demonstran Ukraina pun angkat senjata. Sebelum terang-terangan angkat senjata, kelompok oposisi di dua negara ini sama-sama menggunakan taktik penembak gelap. Korbannya rakyat sipil, dan dengan segera di-blow up media massa; disebut sebagai korban kebrutalan polisi.

Bila di Suriah, ada Turki yang menikam dari belakang, di Ukraina ada Polandia. Tentu bukan kebetulan bila Polandia dan Turki sama-sama anggota NATO, dan bahkan sama-sama negara yang menyediakan wilayahnya untuk pangkalan militer AS. Turki membuka perbatasannya untuk suplai dana, senjata, dan pasukan jihadis dari berbagai penjuru dunia menuju Suriah; serta merawat para pemberontak yang terluka.

Pada 20/2, PM Polandia menyatakan negaranya telah merawat pemberontak bersenjata dari Kiev, dan bahkan sudah memerintahkan militer dan Kementerian Dalam Negeri untuk mempersiapkan rumah sakit agar bisa menolong lebih banyak lagi.

Suriah terjebak dalam konflik berdarah-darah, yang entah kapan berakhir. Kelompok-kelompok radikal merajalela di berbagai penjuru negeri, menggorok leher orang-orang atas nama Tuhan dan menentengnya dengan bangga di depan kamera. Gedung-gedung bersejarah, pasar-pasar kuno, dan warisan budaya berusia ribuan tahun hancur lebur.

Ukraina tak jauh beda, sebuah negeri dengan keindahan alam yang mengagumkan, menyimpan gedung-gedung kuno eksotis Eropa Timur, dan bahkan ada jejak-jejak panjang kehadiran Islam di sana. Yanukovich memang sudah terguling, tapi konflik belum selesai. Perang saudara sudah di ambang mata.

Bila di Suriah, yang maju ke depan untuk ‘berjihad’ adalah kelompok Islam radikal, di Ukraina ada kelompok-kelompok ultra-kanan. Salah satu kelompok demonstran di Maidan, Ukrainian People’s Self-Defense (UNA-UNSO, organisasi ‘turunan’ NAZI), diketahui dilatih kemiliteran di kamp NATO di Estonia pada 2006. Mereka diajari membuat peledak dan menembak.

Skenario di Suriah dan Ukraina sedemikian mirip, sama miripnya dengan berbagai aksi penggulingan rezim di berbagai negara lain, baik yang berhasil, ataupun gagal. Terlepas bahwa pemimpin di negara-negara itu pantas atau tidak digulingkan, terlalu naif bila kita mengabaikan begitu saja kemiripan skenario ini.

Ukraina adalah negara yang sangat subur, lumbung pangan Eropa, dan tengah membangun kekuatan industri. Tak heran bila Uni Eropa sangat menginginkannya. AS pun menggunakan kekacauan Ukraina untuk melemahkan Rusia, rivalnya di Suriah.

Dan jangan lengah. Alam Indonesia jauh lebih kaya dari Ukraina. Skenario yang sama, dengan isu berbeda, sangat mungkin akan melanda negeri ini dalam waktu dekat. Kecerdasan melihat mana kawan, mana lawan, adalah satu-satunya cara untuk melindungi keselamatan bangsa kita. Persatuan adalah kata kuncinya. Jangan biarkan Indonesia menjadi “une autre Syrie” (Suriah yang lain).

Catatan: akhirnya “revolusi” di Ukraina berhasil menggulingkan pemerintahan yang pro Rusia, dan presiden pro-Barat pun naik berkuasa. Sejak itu konflik berkepanjangan terjadi di Ukraina, sampai sekarang.

**AS sangat berperan dalam memelihara ideologi Nazisme Ukraina ini, ada dibahas di film dokumenter ini:

https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/1073344313237794

Foto: Bernard-Henri Lev berpidato di Maidan

Angelina Sondakh Ahirnya Menghirup Udara Bebas

Oleh Margono Situmorang

Angelina Sondakh atau yang kerap dipanggil Angie adalah mantan putri Indonesia tahun 2001, juga anggota DPR-RI Partai Demokrat, yang tersandung kasus korupsi dengan masa tahanan 10 tahun, tidak lama lagi akan segera menghirup udara bebas..

Istri dari mendiang Adjie Massaid ini dikabarkan akan bebas dari masa tahanan yang dijalaninya pada tanggal 3 Maret tahun 2022 ini. 

Dari konfirmasi wartawan kepada asisten pengacaranya, Khaerudin, yang di hubungi lewat ponselnya membenarkan, “ia mba Angie akan segera keluar” . Balas Krisna yang merupakan pengacara Mba Angie belum bisa di hubungi karena ponselnya berada diluar jangkauan.

Kepastian Angie keluar dari tahanan kami peroleh dari pihak Lapas Pondok Bambu, Jakarta Timur yang enggan mau disebutkan namanya..” Ia ini kabar baik karena Mba Angie tanggal 3 akan bebas keluar tahanan”, jelasnya.

Berita kabar keluarnya ibu kandung Keanu Massaid ini,  mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat. 

10 tahun silam mendekam dalam penjara bukan waktu yang sebentar. Kendati demikian, penjara tidak selamanya buruk bila pelaku mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian buruk yang menimpanya.

Angie adalah wanita yang awalnya di stigma buruk oleh masyarakat karena kasus yang menjerat. Namun Ia mampu mengambil hikmah besar dari masa-masa tahanan yang sangat panjang yang dijalani

Di dalam penjara, Angie yang terbiasa hidup bebas, bisa memilih tidur ditempat yang bersih, kasur empuk dan ruang privasi harus terbiasa berbagi kasur dengan beberapa tahanan lain tinggal dikamar ukuran kecil, pengab, berisik dan harus berbagi 1 toilet untuk beberapa orang

Di awal-awal tinggal di hotel prodeo, Angie menangis tidak tertahan karena ia harus mencium bau BAB seorang tahanan yang menggunakan toilet pada malam hari. Tiada hari hanya menangis yang dilalukan Angie didalam penjara hingga akhirnya ia pun terbiasa dengan situasi buruk itu.

 “Manusia itu ternyata bisa beradaptasi dengan setiap keadaan” begitu ungkapan Angie, yang dikutip dari pernyataan sopir pribadinya, mas Igna .

Mungkin ini pas dengan kata-kata motivator Bong Chandra, manusia semakin diperas dengan penderitaan, ia makin kuat, mahal & menemukan jati dirinya

Kata-kata itu tepat karena selama 10 tahun dalam penjara Angie memperlihatkan perubahan positif ayang sangat luar biasa.

Angie makin khusyu menjalani ibadah, belajar mengaji hingga menghafal 15 juz Alquran, mendidik Keanu anak semata wayangnya yang ia tinggalkan saat masih balita

Ia menggerakan tahanan wanita lain dengan berbagai kegiatan positif; membuat kerajinan tangan, membangun perpustakaan, bercocok tanam hingga ikut paduan suara dan lain-lain.

Jiwa aktifisnya sebagai mantan putri Indonesia dan aktifis partai benar-benar menyibukannya berkreasi hingga ia merasa lupa sedang menjalani hukuman penjara.

Anak semata wayangnya kini sudah beranjak dewasa. Keanu kecil oleh Angie didik dengan memenej ayah, ibunya, sopir hingga mas Mudji (adik Adjie Massaid) bergantian merawat buah hatinya itu

Kemampuan manajerial Angie yang jauh dari Keanu benar-benar bisa ia terapkan dengan cerdas. Angie benar-benar sosok ibu dan politisi yang mampu mengelola keterpurukan menjadi berkah dan hikmah yang mengagumkan.

Keadaan Angie di dalam penjara selama ini tertutup dari ekspos media. Dan memang itulah yang di inginkan Angie agar ia fokus, taat  mengikuti semua prosedur hukum yang ia ikuti.

Angie telah memperlihatkan diri sebagai warga negara yang taat menjalani semua proses hukum yang berlaku

Kini Angie akan menjadi pribadi yang baru setelah masa tahanan selama 10 tahun berakhir pada tanggal  3 April 2022 nanti. 

Angie akan menghirup udara bebas dan publik sangat mengapreseasi dan bertanya-tanya apa yg akan dilakukan wanita cantik yang telah menggunakan hijab ini setelah menyandang status baru “bebas” di masa-masa mendatang

Berebut Anies Baswedan

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Maju Pilpres, hampir pasti Anies menang. Ini dapat dikalkulasi secara rasional. Anies tak ubahnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2004 dan Jokowi tahun 2014.

Anies punya magnet cukup luar biasa. Dimana ada Anies, di situ berkumpul massa yang histeris. Mereka akan teriak: presiden… Presiden… Presiden…

Anies Baswedan sudah identik dengan sebutan presiden. Ini ada di alam bawah sadar rakyat. Tak ada komando, tak ada yang provokasi.

Suatu ketika saya pernah lihat Anies di bandara. Saya perhatikan dari jarak belasan meter. Hampir gak ada orang di bandara itu yang tidak minta foto sama Anies. “Ini orang sepertinya memang sedang disiapkan oleh sejarah”, gumamku dalam hati.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” kata temenku, seorang tokoh dari Jepara. Dia menggambarkan Anies sebagai sebuah harapan baru. Anies seperti air dalam kehausan rakyat.

Saya hanya mendiskripsikan tentang situasi sosial saat ini yang lagi gandrung dengan tokoh bernama Anies Baswedan. Obyektif, apa adanya, dan memang begitulah faktanya. Sebuah ungkapan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Jika Anies disambut meriah dan dielu-elukan di Jakarta, itu hal biasa. Karena Anies memang gubernur Jakarta. Tapi, ketika Anies datang ke Makasar, Padang, Surabaya dan Jogja, masyarakatnya menyambut dengan antusias dan dalan jumlah besar, lalu teriak presiden… Presiden… Presiden.. Tentu ini bukan sesuatu yang biasa. Ini tanda zaman bahwa Anies memang sepertinya disiapkan oleh takdir untuk memimpin negeri ini kedepan.

Semalam ada yang telpon saya, dia dapat info bahwa ada sejumlah daerah yang minta Anies datang. Sepertinya mereka ingin juga merasakan kehadiran Anies setelah viral video sambutan kepada Anies di Surabaya, Makasar dan Jogja. Mereka sepertinya gak sabar menunggu Anies selesai dulu dari tugasnya sebagai gubernur 16 oktober tahun ini.

Temen saya yang semalam telp juga sedang cari akses ke Anies untuk menghadirkan gubernur DKI ini ke daerahnya. Dia jamin bisa kumpulkan minimal 10.000 orang. Pandemi bro… Pandemi… Sabar.

Untuk menguji kebenaran “tesis” saya di atas, anda coba testimoni dengan menghadirkan Anies di berbagai daerah. Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulsel, Sumsel, Sumbar, Aceh, Sumut, atau mana saja. Kasih tahu masyarakat Anies akan datang ke wilayah itu. Kita lihat, berapa banyak dan antusiasnya masyarakat yang menyambut Anies. Anda boleh patahkan “tesis” saya jika yang datang sedikit.

Masalahnya, Anies kalau datang ke daerah untuk keperluan tugas negara, diem-diem. Gak kasih tahu masyarakat. Alasannya, ini tugas negara, bukan sedang kampanye. Anies betul-betul menjaga etika kerja. Kalau kebetulan itu acara hajatan partai, silaturahmi ke ulama atau tokoh, ini akan dimanfaatkan oleh mereka untuk mengumumkan ke masyarakat sekitar. Gak bisa diem-diem lagi. Ini terjadi seperti di Makassar (acara pernikahan), Jogja (partai), Surabaya dan Bumiayu Brebes (pesantren) itu.

Setiap zaman ada tokohnya. Jika dilihat dari banyak indikator, Anies adalah tokoh zaman ini. Anies punya magnet sosial yang cukup luar biasa.

Menjamurnya kelompok relawan Anies dengan berbagi nama dan identitas yang bermunculan saat ini adalah bukti nyata bahwa Anies punya magnet yang cukup besar. Dan ini tidak nampak pada tokoh lain.

Ada yang gak suka, itu pasti. Tidak ada tokoh di dunia ini yang disukai semua orang. Nabi sekalipun, tidak semua orang suka. Tuhan aja ada yang menolak kehadirannya, apalagi manusia. Ini bukan analogi, jangan salah paham. Tapi ini menegaskan bahwa setiap manusia, ada yang suka, dan ada yang gak suka. Itu wajar saja.

Kelebihan Anies diantaranya tidak pernah bereaksi dengan kebencian orang lain kepadanya. “Dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang”. Prinsip ini benar-benar menjadi karakter Anies dalam keseharian.

Kelebihan lain, setiap yang salah paham dan bahkan membencinya, sekali bertemu dan diajak komunikasi, lalu berubah sikap. Mungkin sikap lapang ini yang membuat Anies bisa merangkul semua pihak, termasuk yang semula tidak menyukainya.

Gak mudah tersenyum kepada orang yang menyerang kita. Apalagi mendatangi rumahnya. Dan Anies bisa melakukan itu. Anies datang ke rumah Remy Sylado, seseorang yang kita semua tahu, pernah kurang positif pandangannya terhadap Anies Baswedan. Clear!

Selain integritas, kapasitas dan prestasi kerja, pola komunikasi Anies yang lembut, santun dan pemaaf, saya rasa ikut memberi kontribusi terhadap kharismanya. Anies tak hanya mampu menyentuh otak, tapi juga hati masyarakat dengan emosinya yang stabil. Jika dirasionalkan, mungkin ini rahasia dari kharisma Anies yang sedang digandrungi rakyat.

Jika situasi ini bertahan, saya pikir Anies akan menjadi rebutan tidak saja kelompok masyarakat, tapi juga partai politik dan para pemodal.

Jakarta, 3 Pebruari 2022

Anies Menguat, Semua Merapat

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Ada dua macam pendukung. Pertama, pendukung emosional. Publik mengenal dengan istilah “Die Hard”. Mereka adalah para pendukung fanatik. Pokoknya suka dia, maka pilih si dia. Gak peduli orang mau ngomong apa.

Para pendukung ini cinta mati kepada calon. Sulit dibelokkan, dan kecil kemungkinan pindah ke lain hati.

Mungkin lihat performennya menarik, cara bicaranya lembut, apa adanya dan tidak banyak drama, tidak marah ketika dihujat dan dicaci maki, tetap santun setiap menerima kritikan, gak ada kesan sombong dan bersikap kasar, peduli dan membela wong cilik, terutama mereka yang tempat tinggalnya tergusur. Calon yang dianggap berbeda dari yang lain.

Banyak faktor yang membuat para pemilih jatuh hati, lalu kekeh memilih calon itu. Pemilih Indonesia umumnya pemilih semacam ini, yaitu pemilih emosional. Kalau sudah “jatuh cinta”, susah berpindah ke lain hati.

Kedua, pemilih rasional. Jumlahnya kalah banyak dengan pemilih emosional. Meski sedikit, para pemilih rasional punya pengaruh besar. Sebab, ini kaum otak cerdas yang mengerti bagaimana bicara, menciptakan opini dan memengaruhi orang lain.

Nah, kita bisa saksikan para penulis, wartawan dan kaum akademisi yang terus menerus menyuarakan Anies Baswedan for presiden di ruang publik. Mungkin hanya puluhan hingga ratusan jumlah orangnya, tapi kahadirannya luar biasa dalam memengaruhi para pemilih Indonesia yang emosional tersebut. Para pemilih rasional dan emosional bertemu di sini.

Pemilih rasional ada dua. Pertama, pemilih yang idealis. Para pemilih idealis ini adalah orang-orang yang mau mikir. Selalu bertanya: calon ini bisa memimpin gak kalau nanti terpilih? Lalu mereka melihat track recordnya. Melihat apa prestasi si calon itu. Bagaimana hasil kerjanya yang terlihat dan dirasakan rakyat. Dalam konteks ini, Anies Baswedan secara umum memang punya keunggulan. Ini bagian dari modal tersendiri.

Kedua, pemilih rasional yang pragmatis. Mereka hanya akan bergabung dengan calon yang diprediksi peluang menangnya lebih besar.

Siapa mereka? Pimpinan partai dan pemilik modal. Bagi mereka, integritas dan kapasitas bukan yang utama. Yang terpenting itu adalah kemenangan.

Kalau calon yang mereka usung menang, jatah menteri untuk partainya jelas. Mereka juga akan ikut menikmati kekuasaan.

Bagi para pemodal, bisnisnya aman, bahkan bisa berkembang karena adanya akses ke kekuasaan. Namanya juga bergabung dengan pemenang.

Nah, saat ini Anies Baswedan nampaknya makin besar peluangnya untuk menjadi presiden 2024. Konsolidasi organik para relawan semakin marak dan penuh antusiasme di berbagai daerah. Kolaborasi pemilih rasional idealis dan pemilih rssional membentuk konsolidasi para relawan. Eforia penyambutan Anies di berbagai even sebagai bentuk nyata keberhasilan konsolidasi itu. Ini boleh diclaim bahwa rakyat menghendaki Anies jadi presiden.

Suasananya mirip dengan SBY di tahun 2004 dan Jokowi di tahun 2014. Suasana macam ini tidak bisa direkayasa, apalagi dibendung. Ini “natural” datang dari rakyat yang bersemangat untuk menjadikan Anies presiden 2024.

Situasi ini linier dengan hasil survei dimana elektabilitas Anies terus naik. Trend politik nampaknya sedang berpihak ke Anies Baswedan, cucu AR Baswedan, salah satu pahlawan Indonesia itu.

Kondisi ini akan terus dibaca oleh parpol dan para pemodal. Jika Nasdem selalu mengirim pesan dukungan ke Anies, dan perayaan harlah PPP di DPW-DPW terus menghadirkan Anies, juga pernyataan ketum PAN baru-baru ini tentang Anies presiden, boleh dibilang sebagai bukti adanya kesadaran bahwa Anies memang memiliki peluang besar untuk memimpin Indonesia 2024.

Para pemodal nampak mulai merapat. Dukungan Amran Sulaiman, mantan Mentan dan pengusaha kaya asal Sulawesi kepada Anies memperkuat kesimpulan adanya peluang besar itu. Hal yang sama pernah dilakukan Amran Sulaiman kepada Jokowi tahun 2014.

Tidak semua parpol dan pengusaha yang menunjukkan dukungan terang-terangan ke Anies Baswedan. Dukungan “silent” dari parpol, pengusaha dan tokoh-tokoh, tentu punya alasan tersendiri untuk tidak diekspos ke media.

Kesimpulannya bahwa semakin calon itu kuat, maka akan semakin banyak yang merapat. Ini “sunnatullah” dalam dunia politik. Dan Anies nampaknya sedang mendapat anugerah ini. Hal ini sekaligus akan dapat menambah energi dan semangat para relawan untuk melakukan konsolidasi yang lebih masif dan menyuarakan Anies for Presiden.

Bogor, 31 Januari 2022

Catatan Kelam Tentara Amerika

Di susun oleh HABIB HUSAIN ALI ALHABSYI

Cerita-cerita dalam peperangan, termasuk Perang Irak, memang mengusik perasaan. Tidak semuanya pantas dituliskan di sini.
Pada awal 2004, peristiwa di penjara Abu Ghraib merebak ke seluruh dunia dan telah mencoreng muka pihak militer Amerika Serikat (AS).
Dalam penjara itu ada 320 tahanan dan tidak semuanya telah terbukti bersalah. Ada beberapa yang sekedar mengalami keterbelakangan mental atau buta.
Spesialis Richard Murphy ditugaskan memimpin 1 bulan sebelum terjadinya pemberontakan karena tindakan-tindakan brutal pasukan pengawas penjara. Ada 9 tahanan meninggal dunia dan 3 orang lagi cedera.
Kerusuhan dipicu oleh penyiksaan dan penghinaan yang berlangsung di sana, mulai dari sengatan listrik, diseret di lantai dalam keadaan diikat rantai (bahkan diikat pada testikel si tahanan), dan dihajar terus-menerus.

1.Selfie Bersama Mayat
Camilo Ernesto Mejia pernah bergabung dalam kesatuan Angkatan Darat Amerika Serikat atau US Army. Pada 2004, ia diterjunkan dalam Perang Irak.
Namun, di tengah pertempuran, sang sersan memilih desersi. Meija menolak kembali ke kesatuannya. Alasannya, pria asal Nikaragua itu menolak perang.
Atas tindakannya yang dinilai indisipliner, Meija dijatuhi hukuman penjara dua tahun, pangkatnya diturunkan jadi prajurit. Ia juga dianggap tak tahu aturan.

Ilustrasi patroli di kota Ramadi, Agustus 2006. (Sumber Wikimedia Commons/Air Force Tech. Sgt. Jeremy T. Lock)
Setelah bebas dari penjara, Meija lantang menentang perang. Ia juga bicara pada media, tentang pengalaman mengerikan yang dihadapinya di Irak.
Misalnya, pada suatu hari, Meija mengisahkan, ia dan pasukan yang dipimpinnya dihadapkan pada seorang pria muda yang membawa granat.
Tanpa bertanya, ia dan pasukannya langsung menyiagakan senapan dan menembak pemuda itu. Kemudian, ingatan Meija langsung terngiang pada 11 orang lainnya yang mereka habisi.
Ada bocah berusia 10 tahun yang membawa AK-47, sementara lainnya adalah warga sipil yang tertembus peluru saat berada di tengah baku tembak.
“Mereka adalah manusia,” kata Meija seperti dikutip dari CBS. “Aku melihat mereka rubuh dan jasadnya diseret melewati genangan darah. Itu sangat mengguncang jiwaku.”
Meija juga menceritakan hal-hal mengerikan yang disaksikannya semasa perang. Misalnya, ada sejumlah tentara yang selfie atau berfoto bersama warga yang mereka bunuh. Bahkan di depan keluarga korban!
Sejumlah foto membuktikan tindakan tak berperikemanusiaan itu, termasuk pose seorang tentara muda AS yang pura-pura makan otak yang mengalir dari kepala salah satu orang Irak.
 

. Membunuh Hewan Peliharaan

Crystal cukup berpengalaman menggerebek rumah-rumah di Irak untuk memastikan tidak ada ancaman sekaligus menebar ketakutan. Ia bercerita, “Kami mendekat dan ada seekor anjing milik keluarga. Hewan itu menggonggong ganas, karena memang itu tugasnya. Dan pimpinan kami, mendadak menembaknya begitu saja.”
“Peluru masuk ke rahang dan keluar lagi. Saya pencinta hewan dan anjing itu berlarian sambil berdarah-darah. Apa-apaan itu? Keluarga itu hanya duduk diam, mereka terdiri dari 3 anak kecil, seorang ibu, dan seorang ayah, tampak ketakutan.”
Ia berteriak meminta anjing itu dibebaskan dari penderitaan. Setelahnya, ia memberikan seluruh uang yang dibawanya saat itu, senilai US$ 20, kepada keluarga dan meminta maaf karena seseorang yang jahat telah melakukan hal itu kepada anjing mereka.

  1. Parit Menjijikkan

Stuart Cloete masih berusia 17 tahun ketika ditugaskan ke dalam parit perlindungan pada masa Perang Dunia I. Ia menyaksikan segala kengerian di sana.
“Panas matahari menyebabkan jasad menggembung berisi gas dan terkadang hingga kebiruan, seperti biru laut. Kemudian, ketika gasnya menghembus ke luar, jasad-jasad itu mengering seperti mumi dan kaku dalam posisi meninggalnya.”
Mayat-mayat itupun tidak selalu dalam posisi yang baik, katanya, “Burung gagak mematuk mata dan tikus menjelajah ke bagian dalam mayat yang bergelimpangan dan terabaikan…lembek, seperti keju Camembert. Saya pernah menaruh tangan kanan ke dalam perut seseorang. Baru berapa hari kemudian ada bau busuk di kuku saya.”
Ditambah lagi dengan kerumunan tebal lalat hitam yang mengerubungi mayat-mayat. Ketika ada kesempatan memindahkan mayat-mayat, maka mayat-mayat itu berhamburan ketika diangkat. Muntah-muntah jadi hal yang biasa di dalam sana.

  1. Jasad Hangus

Sebenarnya Kenneth Jarecke adalah seorang jurnalis foto, bukan tentara. Ia adalah bagian dari kumpulan media di Kuwait dan sering menemukan pemandangan indah kawasan itu selama operasi Desert Storm dan menjajal lebih jauh lagi.
Ketika melintasi sebuah kendaraan yang terbakar, ada seorang tentara Irak sedang terjebak di dalamnya. Jarecke bisa “jelas melihat betapa berharganya kehidupan bagi dirinya, karena ia bergulat mempertahankannya. Ia berjuang menyelamatkan nyawanya hingga akhirnya ia habis terbakar. Ia mencoba keluar dari truk itu.”
Foto yang diambilnya menunjukkan mayat hangus pria itu yang jelas terjebak di dalam kendaraan walaupun berupaya sekuatnya untuk keluar.
Ketika Jarecke kembali di AS, tidak ada yang mau menerbitkan foto mengerikan tersebut.

  1. Tembakan Peringatan Mematikan

Konvoi merupakan cara yang berbahaya untuk bepergian, seakan menunggu untuk terkena ledakan IED. Kadang-kadang, untuk menjaga kecepatan, kendaraan-kendaraan sipil pun ditembak atau bahkan dilindas.
Sersan Flatt menyaksikan ketika sebuah mobil terlalu dekat di ekor konvoi, demikian, “Mereka beberapa kali menembak mobil itu, entah sebagai tembakan peringatan. Begitulah, salah satu peluru kebetulan menembus kaca depan langsung ke wajah seorang wanita dalam mobil. Sepengetahuan saya, ia langsung tewas.”
“Saya tidak menariknya keluar mobil atau apapun. Putranyalah yang mengemudikan mobil…ada 3 anak perempuan masih kecil di kursi belakang.”
“Mereka mendekat kepada kami karena kami sedang duduk dalam posisi bertahan dekat rumah sakit pusat Mosul, suatu rumah sakit sipil. Mereka melintas dan jelas ia sudah meninggal. Anak-anak perempuan itu menangis.”
Dalam kisah lain, Sersan Campbell berhenti setelah seorang pria tertembak setelah memasuki jalan layang yang sedang dilintasi konvoi. Diduga ada 3 tembakan di dadanya.
“Saya menanganinya. Ia memiliki 3 luka tembak di dada. Darah berceceran. Dan ia beberapa kali kehilangan kesadaran. Ketika akhirnya ia berhenti bernafas, saya memberi CPR.”
“Dengan tangan kanan, saya angkat dagunya dan tangan kiri memegang kepala, ternyata masuk ke dalam tempurung kepalanya. Jadi, sebenarnya saya memegang otak pria itu dengan tangan saya. Saya tersadar melakukan kesalahan. Saya pun memeriksa luka tembusannya.”
“Setelah mobil itu tidak berhenti dengan 3 tembakan, saya tidak tahu bahwa ada Humvee di belakang saya, yang menembak 20 hingga 30 peluru ke mobil itu. Saya tak mendengarnya.”
7

  1. Menyaksikan Balita Tertembak

Spesialis Michael Harmon adalah seorang dokter dalam perang Irak. Ketika masih berusia 24 tahun, ia bertugas di suatu kota dekat Baghdad. Suatu kali, suatu IED meledak dan para prajurit AS membalasnya dengan menembak ke segala arah karena tidak tahu asal serangan.
“Saya tiba di tempat kejadian dan ada seorang anak mungil berusia 2 tahun dengan kaki-kakinya yang montok, terlihat seperti ada peluru menembus kakinya…ia hanya menatap dan saya tahu dia belum bisa bicara.”
“Terdengar agak gila, tapi ia seakan sedang bertanya, ‘Mengapa ada peluru di kaki saya,’.”

  1. Berburu Yahudi di Vietnam

Kisah ini disampaikan oleh sepupu seorang veteran Vietnam. Sudah cukup lama berlalu, tapi tetap terasa mengganjal. Suatu malam, seorang tentara berujar, “Hey, Kupelman, saya dengar ada seorang Yahudi di kesatuan kita.”
Nama marga itu sebenarnya jelas nama Yahudi, tapi tentara yang ditanyai ikut berpura-pura penasaran tentang keberadaan seorang Yahudi, katanya, “Oh ya? Kita harus mengetahui siapa dia.”
Jadi, sepanjang malam itu, mereka memeriksa kasur demi kasur dan membangunkan anggota-anggota kesatuan, menyorot mereka satu per satu dengan senter, sambil

  1. Ranjang Ranjau Darat

Seorang insinyur tempur memiliki kebiasaan konyol yang jelas menakutkan rekan-rekannya. Ia ditugaskan di bunker kuno Irak yang dipenuhi peledak-peledak yang telah dijinakkan bertebaran di mana-mana. Di antaranya adalah timbunan ranjau darat.
“Jadi saya ambil satu ranjang personal yang sumbunya telah dicabut dan menunggu di pintu masuk hingga seorang rekan datang. Ketika ada yang datang, saya teriak ‘awas’ dan melempar ranjau itu kepadanya.”
Pria ini juga tidur di atas ranjang yang terbuat dari ranjau-ranjau yang telah dijinakkan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, mungkin ia berkeinginan menghibur diri dalam situasi muram.