Sel. Jun 28th, 2022
Ahmad Daryoko

Oleh : Ahmad Daryoko (Koordinator INVEST)

I. Filosofi Dasar.

Etatisme mengandung arti kehadiran Negara ditengah rakyat. Yang meskipun mengandung arti sosial tetapi bukan berarti memberlakukan rakyat seperti “kere” ditengah jalan ! Seperti dilakukan seorang Petinggi Negara yang hobbynya membagi bagikan hadiah dengan melempar bingkisan-bingkisan hadiah dari dalam mobil ! Sekali lagi bukan seperti itu yang dimaksud Etatisme/Ta’jul Furudz ini !

Etatisme/Ta’jul Furudz (Islam) lebih menekankan penerapan Kemandirian Bangsa secara ketat ketimbang menggantungkan diri kepada bantuan Asing/Aseng. Memang berat dan rata-rata pasti mengalami kegoncangan ekonomi pada awalnya, misal terjadi krisis, kemiskinan dan seterusnya. Namun Kepala Negara harus bisa mengelola keadaan demikian guna mencapai Visi Kemandirian 

Kalau Ideologi Ta’jul Furudz (dalam Islam) lebih rinci lagi, bahwa yang harus dikelola Negara adalah dalam hal hal strategis mengikuti doktrin yang termuat dalam Hadhist “Almuslimuuna shuroka’u fii shalashin fil ma’i wal kala’i wan nar wa shamanuhu haram”. Sehingga dalam Islam terjadi pembedaan antara komoditas kepemilikan publik (“Public Good”) yang  strategis seperti air, ladang (hutan dan tambang) serta api (energi) dan  harus dikuasai Negara, dan “Commercial Good” atau komoditas komersial yang tidak harus dikuasai Negara dan dapat diberlakukan hukum pasar yang mengikuti mekanisme pasar bebas yang Kapitalistik/Liberal. Dan semua itu masih selaras dengan Panca Sila dan UUD 1945.

II. Bagaimana Di Era Komunis

Dalam “musim panca roba” seperti sekarang ini kita harus bicara apa adanya ! 

Bahwa era orde lama memang di dominasi PKI dengan cara mendorong Bung Karno ke arah “kiri” untuk kepentingan PKI. 

Di era itu, Ideologi Etatisme Bung Karno seperti “National Character Building” , Berdikari, Progresif Revolusioner dll yang terlihat Nasionalis di “tunggangi” PKI dengan program Nasakom, Trikora, Dwikora , Ganyang Malaysia, Angkatan Kelima  dll dengan target utama penghancuran TNI AD. Namun BK justru terlihat menikmati semua itu. Apalagi PKI mendukung BK sebagai Presiden Seumur Hidup !

Dalam situasi tersebut , PKI justru memanfaatkan kondisi krisis ekonomi, kemiskinan (yang wajar terjadi pada Negara yang mau bangkit secara mandiri) yang timbul  guna menebar politik pertentangan kelas seperti jargon-jargon “Kabir” (Kapitalis Birokrat), “Setan Desa”, “Setan Kota” , ” Borjuis vs Proletar” dsb guna memecah belah masyarakat. Dan ujung nya pecah Pemberontakan G 30 S/PKI pada 1 Oktober 1965, yang untung dapat ditumpas secara tuntas dan cepat oleh Pangkostrad ( saat itu ) Mayjend Soeharto.

Dan lebih parah lagi setelah terjadi “gonjang ganjing” politik 30 September 1965, semangat Etatisme yang tadinya di “kangkangi” PKI ke arah “kiri”,  selanjutnya mengayun ke arah “kanan” dengan terbitnya UU No 1/1967 tentang PMA (Penanaman Modal Asing) yang juga ditanda tangani oleh BK pada 10 Januari 1967.

Yang tidak habis pikir adalah baru saja BK “menendang” IFIs ( IBRD, ADB, IMF) pada 1964, tiba tiba masuk lagi ke kekuatan ekonomi dunia itu dan mempersilahkan “Freeport MC Moran” mengeduk emas di Puncak Jaya Wijaya( Gressberg) di Papua itu,  pasca terbitnya UU No 1/1967 tentang PMA di bulan dan tahun  yang sama .

III. Bagaimana Di Era Kapitalis

Kalau era Orla identik dengan era Komunis, maka era Orba identik dengan era Kapitalis 

Kalau di era Orla Etatisme/Ta’jul Furudz di “acak” Komunis, maka di era Orba Etatisme/Ta’jul Furudz di “acak”-acak Kapitalis

Baik Komunis maupun Kapitalis, dua duanya adalah musuh Ideologi Etatisme/Ta’jul Furudz. 

Bedanya kalau Komunis, pembunuhan dilakukan  seketika dan secara sadis, disembelih dan dikubur kedalam sumur, seperti penyembelihan para Kyai dan Santri di Takeran, Panigoro antara 1948, 1964 dan peristiwa G 30 S/PKI di Lobang Buaya 1965 . 

Sedang Kapitalis membunuh rakyat Indonesia secara pelan dan lama. Di kasih umpan dulu dengan hutang Luar Negeri, dibangunkan infrastruktur, kemudian lama lama di rampas BUMN dan SDA nya (tambang emas, nikel, besi , batubara dll), setelah BUMN di kuasai di “cekek” tarip listrik nya (misal untuk kelistrikan), diduduki kawasan area tambang dan sekitarnya.

Di era Orba semua yang berbau Ideologi di anggap tabu, tidak boleh berpolitik ! Jargonnya adalah Karya…..Karya dan…Karya . Sehingga Parpol Penguasa (The Rulling Party)pun bernama Golongan Karya. Akibatnya Rezim Orba tidak memiliki Visi alias “pragmatis”. Panca Sila memang di junjung tetapi “ruh” Ideologinya (Etatisme/Ta’jul Furudz) dimatikan ! Akibatnya budaya “Peng Peng” mulai merebak , dan akhirnya terbit LOI (Letter Of Intent) pada 31 Oktober 1997 yang berisi komitmen Pemerintah kepada IFIs terkait : 1). “Macro Economic Policies” 2). “Financial Sector Restructuring 3). “Structural Reform” yang intinya berisi Deregulasi, Debirokratisasi, Privatisasi dan  Liberalisasi Perdagangan. Yang ujung2 nya antara lain Negara harus melepas BUMN pelayanan publik seperti PLN, Pertamina, Telekomunikasi dll.

IV. Bagaimana Di Era Freemasonry

Di era ini Ideologi Komunis dan Kapitalis ber sinergi dalam Freemasonry. Dimana dalam penggalangan massa diterapkan dengan cara-cara Komunis. Sedang System ekonomi dengan cara Kapitalis !

V. Kesimpulan :

Panca Sila dan UUD 1945 dengan ruh Etatisme/Ta’jul Furudz itu sampai saat ini hanya menjadi “pajangan” ! Yang berlaku adalah Ideologi Komunis dan Kapitalis !

VI. Apa Yang Harus Di Lakukan

Generasi Muda harus sadar dan bangkit melawan ini semua ! Dengan cara “roboh” kan Tirani Komunis dan Kapitalis yang ada saat ini !

Dan tegakkan Etatisme/Ta’jul Furudz sebagai “ruh” Panca Sila itu”.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.